Jumat, 30 Oktober 2015

KISAH ABU NAWAS

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.

Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."
 
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah
      
murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
 
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
 Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
 
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."
      
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

KISAH ABU NAWAS

Pesan Bagi Para Hakim
Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.
Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.

"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.
Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
 

"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi        hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha        IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!"
 
"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.
Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja."
 
Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah        aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"
 

"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."
Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT



Perilaku orang yang beriman kepada Allah SWT antara lain :
  1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain
  2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya
  3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, baik dengan membaca sendiri maupun menghadiri majlis ta’lim
  4. Berusaha untuk mengamalkan petunjuk-petunjuknya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
  5. Berusaha untuk menyebarluaskan petunjuk-petunjuknya kepada orang lain, baik di lingkungan keluarga sendiri maupun masyarakat
  6. Berusaha untuk memperbaiki bacaannya dengan mempelajari ilmu tajwid
  7. Tunduk kepada hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menyelesaikan suatu permasalahan
 Hakikat Beriman Kepada Allah swt.

Beriman terhadap kitab mengandung empat perkara; 

Pertama: Membenarkan dengan sungguh-sungguh bahwa semua kita diturunkan oleh Allah dan bahwa Allah berbicara secara hakiki, di antaranya ada yang langsung terdengar darinya dari balik tabir tanpa perantara malaikat, di antaranya ada yang disampaikan utusan para malaikat kepada utusan manusia. Di antaranya ada yang ditulis Allah Ta’ala dengan tanganNya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,.
 “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (SQ. As-Syuro: 51)
Allah juga berfirman, 

وكلم الله موسى تكليما  (سورة النساء: 164)
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (SQ. An-Nisaa’: 164)

Allah berfirman terkait dengan Kitab Taurat,
وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِكُلِّ شَيْءٍ  (سورة الأعراف: 145)
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu.” 9SQ. Al-A’raf: 145)

Kedua: Apa yang Allah sebutkan dalam kitab-kitab tersebut secara terperinci, maka wajib diimani secara terperinci, yaitu kitab-kitab yang Allah namakan Alquran, yaitu; Alquran, Taurat, Injil, Zabur, lembaran Ibrahim dan Musa)
Adapun yang disebutkan secara global, maka harus kita Imani secara global. Maka kita mengatakan sebagaimana Allah perintahkan kepada kita

وقل آمنت بما أنزل الله من كتاب (سورة الشورى)
Dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah.” (SQ. As-Suro:15)

Ketiga:
Membenarkan kabar-kabar yang shahih, seperti kabar yang terdapat dalam Alquran, atau berita yang belum dirubah dan diganti dalam kitab-kitab terdahulu. 

Keempat: 
Beriman bahwa Allah menurunkan Alquran sebagai hakim terhadap kitab-kitab dan pembenar terhadapnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ (سورة المائدة: 48)
”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.” (SQ. Al-Maidah: 48).
Ahli tafsir berkata, “Muhaiminan” artinya yang dipercaya dan menjadi saksi atas kitab-kitab sebelumnya serta membenarkanya, maksudnya membenarkan apa yang ada di dalamnya yang shahih serta menafikan sesuatu yang telah dirubah diganti dan diselewengkan serta hukum yang telah dihapus padanya, atau menetapkan dan mensyariatkan hukum-hukum baru. Karena itu, semua yang berpegang teguh pada kitab-kitab terdahulu tunduk kepadanya, sebelum berlaku kitab sesudahnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُون . وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ (سورة القصص: 52-53)
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).” (SQ. Al-Qasas: 52-53)

- Yang diwajibkan bagi seluruh umat adalah mengikuti Alquran zahir maupun batin dan berpegangteguh kepadanya serta menunaikan haknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وهذا كتاب أنزلناه مبارك فاتبعوه واتقوا  (سورة الأنعام: 155
Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (SQ. Al-An’am: 155)

         Yang dimaksud dengan berpegang teguh dengan kitabNya serta menunaikan haknya adalah menghalalkan yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan di dalamnya serta tunnduk kepada perintah-perintahnya dan menjauh dari ancaman-ancamannya, mengambil pelajaran dari contoh-contoh kejadian dan kisah di dalamnya, mengetahui hukum-hukumnya yang jelas serta menyerahkan kepada Allah perkara-perkara yang masih samar serta tidak melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan, membelanya dengan menghafalnya, membacanya dan mentadabburi ayat-ayatnya serta menghidupkannya di malam dan siang, memberikan nasehat dengan seluruh makna padanya dan berdakwah kepadanya berdasarkan petunjuk.
Iman seperti ini akan memberikan manfaat besar bagi seorang hamba, di antaranya yang terpenting; 

1-      Mengatahui besarnya perhatian Allah terhadap hambaNya, karena Dia menurunkan kitabnya bagi setiap kaum agar mereka menjadikannya sebagai petunjuk.
2-      Mengetahui hikmah Allah Ta’ala dalam syariatnya karena di menurunkan syariat bagi setiap kaum apa yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala, 
لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا
“Masing-masing Kami jadikan bagi kamu semua syareat dan manhaj.”
3-      Melaksanakan kewajiban bersyukur atas nikmat yang sangat besar ini.
4-      Pentingnya memelihara Alquran yang agung ini, dengan membacanya, merenunginya dan memahami makna-maknanya serta mengamalkannya.Wallahua’lam.

Kamis, 29 Oktober 2015

Materi Akidah Akhlak Kelas VIII

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT 

A. Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab ALLAH SWT 

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kitab yaitu buku : bacaan : wahyu Tuhan yang dibukukan. Sedangkan iman yaitu keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab dst : ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin. Yang dimaksud iman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada rasul-rasul-Nya untuk disampaikan kepada umatnya sebagai pedoman hidup (petunjuk) bagi umat manusia supaya dapat meraih kebahagian di dunia dan di akhirat. Kita wajib beriman bahwa setiap hukum yang telah disampaikan para rasul kepada umat manusia itu atas perintah yang mereka terima langsung atau dengan perantaraan malaikat. Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 285:
Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya .” (Q.S. Al Baqarah (2) : 285)
Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT hukumnya wajib. Wajib beriman kepada kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan kepada para rasul-Nya; maka pengingkaran terhadap salah satu kitab Allah, sama artinya dengan pengingkaran terhadap kitab-kitab Allah. Mengingkari kitab Allah, sama pula artinya mengingkari kepada Rasulullah, para Malaikat dan kepada Allah SWT. Orang yang mengaku Islam tetapi mengingkari iman kepada kitab-kitab Allah termasuk murtad (keluar dari islam).
Sebab itu, kita wajib beriman kepada kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi musa berupa suhuf-suhuf atau lembaran- lembaran (Q.S. 53 : 36-37), Taurat yang diwahyukan kepada nabi Musa ( Q.S. 5 : 44), Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud (Q.S. 17 : 55), Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa putra maryam (Q.S. 5 : 44), dan yang terakhir yaitu kitab Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (Q.S. 3 : 2-4) Iman kepada kitab-kitab Allah dahulu berarti kita wajib percaya bahwa sebelum Al Qur’an, Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya, iman yang tidak mengharuskan kita untuk mengikuti dan patuh terhadap perundang-undangannya. Sebab perundang-undangan kitab-kitab suci yang dahulu telah terhapus, telah digantikan dengan perundang-undangan Al Qur’an. Maka Al Qur’anlah satu-satunya kitab yang sekarang kita ikuti dan kita imani.

B. Perilaku orang yang beriman kepada Allah SWT antara lain :
  1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain
  2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya
  3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, baik dengan membaca sendiri maupun menghadiri majlis ta’lim
  4. Berusaha untuk mengamalkan petunjuk-petunjuknya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
  5. Berusaha untuk menyebarluaskan petunjuk-petunjuknya kepada orang lain, baik di lingkungan keluarga sendiri maupun masyarakat
  6. Berusaha untuk memperbaiki bacaannya dengan mempelajari ilmu tajwid 
  7. Tunduk kepada hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menyelesaikan suatu permasalahan  
 C.Hikmah Iman Kepada Kitab-kitab Allah

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalahnya.
  • Hidup manusia menjadi tertata karena adanya hukum yang bersumber pada kitab suci.
  • Termotovasi untuk beribadah dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama, seperti yang tertuang dalam kitab suci.
  • Menumbuhkan sikap optimis karena telah dikaruniai pedoman hidup dari Allah untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
  • Terjaga ketakwaannya dengan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

D.Dalil-dalil Yang Mewajibkan Iman Kepada Kitab-Kitab Allah swt
  1. "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya..” (QS. An Nisaa : 136
  2.  Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. Al Maidah : 48) 
  3. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 44) 
  4. “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah : 46)

Senin, 09 Maret 2015

AKIDAH MTS KELAS 9


BERIMAN KEPADHARI AKHIR

A. PENGERTIAN BERIMAN KEPADA HARI AKHIR
Hari akhir adalah hari berakhirnya serta seluruh makhluk. Pada hari itu terjadi suatu peristiwa yang amat dahsyat dan menakutkan, sehingga alam semesta beserta isinya hancur lebur tanpa tersisa sedikitpun.
Beriman kepada hari akhir, artinya peraya dengan sepenuh hati bahwa hari akhir pasti terjadi. Setiap Muslim wajib beriman dan yakin terhadap adanya hari akhir karena merupakan salah satu rukun iman yang enam.
Firman SWT.:
Artinya: “Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj : 7)
Selain hari akhir masih banyak nama lain yang digunakan untuk hari akhir, di antaranya sebgai berikut :
1. Yaumul-Qiyamah, artinya hari kiamat;
2. Yaumul-Hisab, artinya hari perhitungan amal;
3. Yaumuddin, artinya hari pembalasan;
4. Yaumut-Tammah artinya, hari bencana besar;
5. Yaumul-Haqqah, artinya hari kebenaran;
6. Yaumul-Qari’ah, artinya peristiwa membingungkan;
7. Yaumul-Wazni, artinya hari penimbangan amal;
8. Yaumul-jami’ artinya hari berkumpul;
9. Yaumul-Zalzalah artinya hari kegoncangan,
10. Yaumul-Waqi’ah artinya hari peristiwa yang amat dahsyat;
11. Yaumul-Hasrah artinya hari penyesalan;
12. Yaumul-Ba’s artinyahari kebangkitan;
13. Yaumud-Din artinya hari pembalasan
14. Yaumul-Haq artinya hari yang pasti terjadi
15. Yaumu-Khulud artinya hari kekelan;
16. Yaumul-Fasl artinya hari keputusan;
17. Yaumul-wa’id artinya hari terlaksananya ancaman
18. Yaumut-tagabun artinya hari ditampakkannya keselahan-kesalahan;
19. Yaumut-Tanad artinya hari panggil memanggil
20. Yaumul-Mau’ud artinya hari yang dijanjikan
21. Yaumul-Fath artinya hari kemenangan
22. Yaumul-Kabir artinya hari yang besar
23. Yaumul-‘Asir artinya hari yang sulit.

B. BUKTI/DALIL KEBENARAN AKAN TERJADINYA KIAMAT
Akal sehat manusia mestinya dapat meyakini dan menerima adanya kehancuran alam semesta karena hal tersebut pasti terjadi. Kehancuran total meliputi seluruh isi ala mini bukanlah hal yang mustahil. Para ilmuan dan saintis telah bersepakat bahwa sesuatu yang baru (makhluk), pasti ada awalnya dan menuju ke batas akhirnya, dan pada saatitulah terjadi kehancuran.
Allah SWT. berfirman :

Artinya: Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman : 26-27)

Pada saat terjadinya kiamat semua makhluk yang berwujud dan yang tidak berwujud, yang bernyawa dan yang tidak, semuanya akan hancur luluh akibat dari maha dahsyatnya goncangan bumi. Semua isi perut bumi dan yang tinggal di permukaannya dimuntahkan, sehingga hancr berantakan. Manusia menjadi kebingungan, panic dan ketakutan sambil saling bertanya satu sama lain, mengapa bumi menjadi begini.
Perhatkan Firman Allah SWT.:
Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, Karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az-Zalzalah : 1 – 5)

C. BERBAGAI TANDA DAN PERISTIWA YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI AKHIR
Mengenai kapan datangnya hari kiamat? Adalah tidak ada yang tahu. Akan tetapi, allah dan Rasul-Nya member “rambu-rambu” berupa aneka ragam ciri atau tanda yang menujukkan bahwa hari kiamat sudah dekat.
Adapun tanda-tanda da ciri-ciri akan datangnya hari kiamat adalah :
1. Dunia semakin kacau balau, terjadi pembunuhan di mana-mana. Saking kacaunya, bahkan kejadian Saling bunuh bisa terjadi antara orang-orang terdekat. Nabi Bersabda, “belum akan datang kiamat sehingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, dan ayahnya.” (HR. Bukhari)
2. Tidak ada lagi orang-orang yang menyebut nama Allah. Satu cirri disebutkan lagi oleh Rasulullah SAW. “tidak akan Kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut, ‘Allah, Allah.’” (HR. Muslim)
3. Banyak perbutan keji dan mesum (bahkan penguasa pun merestuinya), orang jujur dituduh khianat, dan orang yang suka berkhianat malah diberi amanat. Tanda-tanda Kiamat tersebut disebutkan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan al-Hakim. “demi Dia yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba Kiamat, melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, bersikap buruk dengan tetangga, orang yang jujur dituduh khianat, dan orng yang berkhianat diberi amanat.”
4. Banyak orang bersaing dalam membangun rumah-rumah dan gedung yang megah. Nabi Bersabda, “ belum akan datang Kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah.” (HR. Bukhari)
5. Banyak orang memilih bunuh diri karena tidak kuasa menanggung beban hidup yang terlalu berat. Rasulullah Bersabda : “belum terjadi kiamat sebelum ada seseorang yang melewati kuburan lantas berkata, ‘alangkah baiknya sekiranya aku ditempat ini.’”
6. Muncul binatang yang dapat berbicara dengan manusia. Tanda ini pun kita ketahui dari firman Allah SWT.


Artinya: “Dan apabila Perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami (QS. An-Naml : 82)
7. Bulan terbelah. Allah menggambarkan tanda yang satu ini dalam Q.S. al-Qamar : 1 :


Artinya : “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. (Q.S. al-Qamar : 1)
8. Matahari terbit dari arah barat. Diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, menyebutkan satu tanda lagi “belum akan tiba kiamat melainkan matahari tebit dari sebelah barat, maka seluruh manusiaakan binasa. Jika terbit dari barat, seluruh manusia akan beriman. Pada saat itu iman seseorang tidak lagi bermanfaat bagi dirinya, jika tidak beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakandalam masa imannya”.

D. MACAM-MACAM ALAM GAIB YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI AKHIR
Allah telah menciptakan beberapa alam yang dilalui oleh makhluk-Nya terutama manusia, manusia telah menempati tiga alam, yaitu alam azali, alam rahim, dan alam dunia. Alam azali ialah tempat di mana ruh yang telah diciptakan Allah SWT. bertempat tinggal sebelum bergabung dengan jasad. Alam rahim ialah tempat di mana cikal bakal manusia berupa janin atau bayi bertempat tinggal selama lebih kurang Sembilan bulan. Alam dunia ialah merupakan tempat manusia hidup setelah dilahirkan dari alam rahim.
Sesuai dengan kehendak Allah SWT. alam dunia ini akan hancur luluh yang disebut dengan kiamat atau hari akhir.setelah hari akhir bui menjadi hancur, semua makhluk akan mati, maka alam pun diganti dengan beberapa alam baru yang disebut alam gaib yaitu; alam barzah/kubur, alam akhirt/mahsyar, alam hisab, mizan, surge dan neraka.
Berikut ini penjelasan tentang beberap ala gaib yang berhubungan dengan hari akhir, yaitu:

1. Alam Barzah
Barzah artinya ”pembatas” atau “pemisah”, yaitu alam yang ada di antara alam dunia dengan alam akhirat. Kehidupan alam barzah bagaikan kehidupan transit di antara tempat berangkat dan tempat yang dituju.
Alam barzah juga disebut sebagai alam kubur. Alam ini dihuni oleh umat manusia sesudah mati, sebelum datangnya hari akhir, sebagai tanda berakhirnya kehidupan dunia dan berawalnya kehidupan akhirat.di ala mini semua ruh orang yang sudah meninggal berkumpul menunggu pembangkitan (yaumul ba’ats) dan di ala mini juga manusia akan berlaku kenikmatan dan siksa kubur.
Bagi orang yang beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya ketika di dunia, ia akan mendaptkan kenikmatan kubur. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, ia akan mendaptkan siksa yang amat pedih. Dalil tentang adanya alam kubur adalah Firman Allah dalam surat al-Mumtahanah ayat 13, yaitu:


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. Al-Mumtahanah : 13)

2. Alam Mahsyar
Mahsyar artinya tempat berkumpul. Alam mahsyar ialah tempat berkumpulnya semua manusia setelah dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat unuk menunggu pengadilan dari Allah SWT. Semua manusia akan dibangkitkan dari kubur kemudian akan dikumpulkan di sebuah tempat yang sangat luas, yang dinamakan padang mahsyar. Semua manusia tanpa kecuali akan dikumpulkan untuk menjalani pengadilan Allah, sehingga setiap manusia bakal bersiap-siap mempertanggungjawabkan amal masing-masing.
Di padang mahsyar semua orang sibuk dengan urunsannya masing-masing. Setiap orang tidak lagi peduli dengan orang lain, meskipun anak terhadap orang tua atau sebaliknya. Tidak ada lagi tolong-menolong atau saling membantu, untuk sekedar tegur sapa pun tidak bisa walau dengan sanak saudara atau keluarga. Allah SWT. berfirman:


Artinya: “Karib Kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mumtahanah : 3)
3. Hisab
Hisab artinya penghitungan”. Setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur, lalu dikumpulkan di padang mahsyar, tahap berikutnya adalahpenghitungan amal manusia selama berada di dunia.setiap perbuatan, sikap perilaku, tindakan dan ucapan dihitung dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allas SWT.,dan pengadilan itu akan dipimpin oleh hakim tunggal, yaitu Allah SWT., sehingga tidak akan terjadi kedzaliman atau kecurangan di dalam memutuskan suatu perkara manusia.
Pada saat itu suasna sanagat mencekam dan menakutkan. Proses penerimaan catatan amal dilakukan dengan cara yang berbeda . ada yang menerima dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, ada pula yang menerimanya dengan wajah yang riang dan ada pula yang menerimanya dengan wajah murung dan penuh kesedihan dan penyesalan. Allah berfirman :


Artinya: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, Maka Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, Dan Dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, Maka Dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan Dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya Dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). (QS. Al-Insyiqaq : 7 – 12 )
4. Mizan
Mizan menurut bahasa berarti “ timbangan”. Menurut istilah mizan ialah timbangan untuk mengukur amal perbuatan manusia selama di dunia, antara amal yang baik dan yang jelek. Semua amal akan ditimbang tanpa kecuali baik yang terlihat maupun yang tidak. Hasil timbangan itulah yang akan menentukan nasib manusia di akhirat, bakal sengsara atau bahagia. Jika timbangan kebaikannya lebih berat dari keburukannya, maka kenikmatan surge akan menyambutnya. Namun, bagi timbangan amal jelek atau dosanya lebih berat, maka nyala api neraka siap melahapnya. Allah SWT. berfirman :


Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya : 47).
5. Surga
Surga adalah tempat yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Surga diperuntukan bagi orang-orang yang taat dan ikhlas beribadah kepada Allah SWT. kebahagiaan surga dan kenikmatannya tidak dapat ditandingi dengan kebahagiaan di dunia.
Setelah manusia ditimbang amalnya, mereka terbagi dua golongan yang disebut dengan Ashabul Yamin dan Ashabus Syimal. Ashabul Yamin artinya golongan kanan, yaitu orang-orang yang shaleh dan taat beribadah mereka mendpatkan keuntungan dengan masuk surga. Ashabus Syimal artinya golongan kiri, yaitu orang-orang yang ketika di dunia tidak melakukan ibadah kepada Allah, mereka akan dimasukan kedalam neraka. Perhatika Firman Allah SWT.:


Artinya: “ Banyak muka pada hari itu berseri-seri, Merasa senang karena usahanya, Dalam syurga yang tinggi, Tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir, Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, Dan permadani-permadani yang terhampar
Surga itu ada tujuh macam, yaitu :
a. Jannatul Firdaus
b. Janatun Na’im
c. Janatu And
d. Janatu Ma’wa
e. Janatu Khulud
f. Darur Qarar
g. Darus Salam

6. Neraka
Neraka adalah suatu tempat yang ada di akhirat, yang penuh penderitaan dan tdiak menyenangkan diperuntukan bagi orang-orang kafir, orang yang tidak mau beribadah kepada Allah dan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.
Gambaran orang-orang yang ditempatkan di neraka sangatlah menderita. Panasnya api neraka jauh lebih panas dari pada api yang ada di dunia. Allah SWT. berfirman :


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.An-Nisa : 56)
Rasa sakit dan penderitaan di dalm neraka tidak ada bandingannya. Mereka merasakan sakit yang tiada henti dan tiada tara. Pedihnya siksa neraka dapat kita ketahui dari ayat-ayat Al-Qur’an. Perhatikan Firman Allah SWT. :


Artinya : “Di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah, Diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi Dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (QS. Ibrahim : 16-17)
Allah SWT. menciptakan neraka sebanyak tujuh macam, yaitu sebagai berikut :
a. Neraka Jahanam
b. Neraka Jahim
c. Neraka Sa’ir
d. Neraka Ladza
e. Neraka Saqar
f. Neraka Hawiyah
g. Neraka Hutomah

E. PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEIMANAN KEPADA HARI AKHIR
Sebagai muslim yang beriman, kita harus memiliki perilaku yang mencerminkan keimanan kita terhadp hari akhir, yang di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Perilaku kreatif
2. Perilaku optimis dan penuh semangat juang
3. Perilaku menghindari maksiat
4. Perilaku ikhlas beramal, baik beribadah, bekerja maupun belajar
5. Perilaku tawadu’ atau rendah hati

Rangkuman Materi IPA Kelas 5 Tema 2 Subtema 1

A. Alat dan Sistem Pernapasan pada Cacing Tanah (Vermes) Cacing bernapas melalui permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir un...